.

Every Day





Every Day
Knopf – August 2012
324 pages


"Tomorrow is tomorrow. Let's end today on a nice note."




Setiap hari, A terbangun di dalam tubuh yang berbeda-beda. A mengalami hal yang berbeda setiap harinya. Setiap hari, A juga belajar mengendalikan perasaan dan emosinya, tidak terlibat dalam kehidupan pribadi dengan tubuh yang ia ‘pinjam’. Sampai satu hari, ketika ia terbangun dalam tubuh Justin dan bertemu dengan kekasih Justin, Rhiannon, A pun jatuh cinta dan berusaha menjalan sebuah hubungan dengan normal.

Tapi, gimana bisa? Kehidupan pribadi yang sebenarnya saja A gak punya. Dan sebagai seorang perempuan, Rhiannon juga pengen dong punya cowok yang ‘nyata’. Yang dia tau selalu aja dalam wujud yang sama, yang bisa ia temui setiap hari. Yang bisa diajak bergaul dengan teman-temannya, yang bisa menjalani hari-hari mereka bersama dengan normal. Tapi, ya gak mungkin lah, pribadi A aja udah gak normal kan ...

Tak selamanya perjalanan A ini mulus, suatu hari, seorang remaja bernama Nathan menuntut untuk bertemu dengan A. A pernah berada dalam tubuh Nathan dan sayangnya meninggalkan memori yang tak terlalu bagus. Hingga Nathan beranggapan itu semua adalah kerjaan ‘setan’ atau aliran sesat.

Yang gue suka dari buku ini adalah, tokoh A – setiap hari, kita akan ‘bertemu’ A dengan karakter yang berbeda – baik laki-laki atau perempuan, bahkan transgender – mulai dari remaja normal, cowok metal, remaja broken home, remaja obesitas, cewek populer di sekolah, remaja dengan keluarga yang sangat harmonis bahkan dengan orang tua yang otoriter, atau bahkan jadi seorang pelayan keturunan Portugis. Kejadian sehari-hari mereka pun beragam – ada yang mau liburan ke Hawaii, atau bahkan menghadiri pemakaman kakeknya. Tapi untungnya, A selalu berada di dalam tubuh yang sesuai dengan usia yang sebenarnya. Bayangin  kalo tiba-tiba terbangun di dalam tubuh orang yang lanjut usia atau bayi … sementara dia sebenarnya adalah seorang remaja?

Sementara karakter Rhiannon, gue beranggapan dia adalah cewek yang kesepian. Pacarnya Justin, terkadan menganggap dia gak ada. Mungkin perhatian dan usaha A yang akhirnya membuat Rhiannon pun luluh … tapi untuk berkomitmen lebih jauh rasanya sangat sulit. Ada saatnya gue merasa A itu egois, memaksakan diri untuk memiliki hubungan, bahkan jadi rada ‘posesif’ dengan setiap hari berusaha bertemu dengan Rhiannon, dan kalo gue jadi Rhiannon, gue bakal parno banget. Dan sangat mengerti Rhianon yang pengen banget menjalani hubungan yang normal. Dan rasanya ikutan sakitttt bareng A dan Rhiannon ….

Gue sama sekali gak bisa ngebayangin apa yang sebenarnya terjadi pada diri A. Apakah ada penjelasan ilmiah dalam kehidupan nyata? Apakah ini hanya fantasi? Tapi yang jelas, buku ini bikin gue ‘sesak napas’. Antara kasihan sama A, ikutan depresi. Siapa sebenarnya A? Siapakah keluarga A? Apa mereka gak merasa kehilangan? Dan saat ia remaja, A bisa mengendalikan perasaannya, tapi ketika masih anak-anak, bingung gak sih tiap hari bangun dengan identitas diri yang berbeda? Di akhir cerita, gue masih pengen tau seberapa jauh usaha A untuk berusaha kembali normal. Tapi… aduh.. gue bahkan menghela napas ketika menutup buku ini… sedih aku .. huhuhu ..

Submitted for:

-          Young Adult Reading Challenge 2014
-          Books in English Reading Challenge 2014
Every Day Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ponco Topanerz

Post a Comment