.

Kaliluna, Luka di Salamanca

Kaliluna, gadis pemanah dari Jogja yang membawa luka ke Salamanca.
Mimpi Kaliluna sebagai atlet panahan berakhir setelah jiwa dan raganya tergores di sebuah malam kelam. Ia percaya satu-satunya tempat yang dapat menyembuhkan jiwanya yang pecah adalah tempat yang asing, seperti Salamanca, Spanyol.
Tetapi berada di kota yang Sungai Tormes mengalir dan cuche memanjakan lidah, tak kunjung membuat jiwa Kali tenang. Ia harus berhadapan dengan Frida, ibu yang meninggalkannya saat kecil dan Ibai, pemuda berdarah Vasco dengan sejuta mimpi dan sebuah rahasia.
Di antara desau dedaunan pohon ceri dan harapan yang tergantung pada gembok Pozo de los Deseos, dapatkah Kali kembali memanah bintang seperti dalam dongeng masa kecilnya atau haruskah ia remuk terinjak seperti semak conyza di pinggir dermaga?

Pertama kali melihat cover ini diunggah di FB saya langsung tertarik dengan judulnya. Covernya juga tak kalah bagus. Lebih menonjolkan judul. Saya memberikan apresiasi tinggi untuk penulis yang menggunakan judul dengan Bahasa Indonesia. Kaliluna, Luka di Salamanca enak diucapkan karena berima dan puitis.
Nama Ruwi Meita memang jaminan untuk masalah diksi. Sejak lembar pertama saya sudah siap mendapatkan taburan diksi yang indah dalam narasinya.

Jadi, novel ini bercerita tentang seorang gadis Jogja bernama Kaliluna. Biasa disapa Kali. Dia pemanah yang hebat. Suatu malam, saat sedang berlatih untuk persiapan SEA GAMES, terjadi peristiwa yang sangat tragis. Dari sinilah berawal semua luka yang dibawa Kali hingga Salamanca. Trauma yang dibawanya sangat parah, hingga Kali akan histeris hanya melihat busur panah.

Kali memilih Salamanca, karena di sana tinggal Frida, ibu kandung yang meninggalkannya saat kecil demi seorang pria berdarah Vasco, Gorka.Tapi, bukan untuk memeluk dan mencurahkan lukanya, Kali justru memilih Frida karena dia menganggap Frida adalah orang asing, tetapi dapat menopang hidupnya selama di Salamanca.

Di dermaga Higuera, di tepi Sungai Thormes, Kaliluna bertemu Ibai. Kali merasa ketenangannya terusik, karena dia ingin sendirian, merenung, dan meresapi lukanya. Tapi, bukan Ibai kalau menyerah begitu saja. Selalu ada cara untuk menyusup dalam jiwa Kaliluna.
Saat akhirnya Kaliluna berhasil menaklukkan monster dalam jiwanya, Arya datang menjemput. Arya, kekasihnya di Jogja.
Kaliluna harus memutuskan, meskipun keputusan apapun akan sama-sama membuat luka.

Saya menikmati setiap kata yang tertera, bukan hanya tentang kisah Kaliluna. Setting Spanyol tidak diumbar, sehingga justru membuat saya merasa ini ditulis oleh salah satu penduduk Salamanca. Justru penulis menawarkan Spanyol dari hal-hal kecil seperti corynza, pepinillo, aroma kota, atau hal-hal kecil dari Spanyol dan penduduknya. Saya suka dengan adegan pesta kehamilan Margarita yang dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh suaminya, dan peserta pesta melantunkan puisi bersama-sama. Keromantisan Spanyol terasa semakin kental. Saya sangat menikmatinya.

Olahraga memanah di novel ini bukan poin utama yang diangkat, seperti novel Betang-nya Shabrina WS. Pembaca hanya akan menemui istilah-istilah dan beberapa teknik yang biasa dipakai dalam memanah. Panahan di sini lebih terasa sebagai latar bagi karakter Kaliluna.Namun, kedua novel itu sama manisnya dan sama indahnya dalam diksi. Mereka berdua jadi penulis favorit saya berikutnya.

Ada satu adegan yang mengingatkan saya pada sosok Katnis di Hunger Games, adalah saat Kaliluna berjalan di keramaian kota Salamanca dengan busur dan panah di punggungnya. Sayangnya, deskripsi fisik masing-masing tokoh masih terasa samar bagi saya. Misalnya, Kali hanya diungkapkan sebagai gadis cantik dari Asia, demikian juga dengan Ibai, dan tokoh yang lain. Namun, 'kekurangan' ini tertutupi dengan deskripsi karakter tokoh dari sisi nonfisik.

Ada satu tokoh di novel ini, seorang gadis bernama Pilar, yang muncul di awal-awal bab, tapi sayangnya peran Pilar kurang signifikan, selain hanya sebagai teman Ibai dan salah satu atlet panahan di Spanyol. Saya pikir Pilar akan menjadi gadis yang 'ada di antara' hubungan Ibai dan Kali.

Salah satu kebiasaan orang Spanyol yang terkenal adalah siesta (tidur siang). Mengingat Spanyol pernah berada di bawah pemerintahan muslim, tidak menutup kemungkinan kebiasaan ini dibawa oleh muslim. Salah satu sunnah Nabi Muhammad, yang sayangnya banyak dilupakan dan ditinggalkan oleh umatnya adalah siesta, yang dalam bahasa Arab adalah qailulah.  Nabi dan para Sahabat melakukan qailulah, yaitu tidur siang sejenak atau istirahat sejenak di siang hari. Dari segi medis, ternyata qailulah ini sangat bermanfaat bagi kesehatan.

Novel setebal 270 ini nyaman dibaca dengan pemilihan font yang pas dengan mata saya. Editing juga cukup rapi, meski masih ada beberapa typo, misalnya:

Terserah kamu sajalah, Aku  ke rumah ... (tanda koma harusnya titik.) --hal 96
... Frida berangkat lebih pagi, Dia tahu ... (tanda koma seharusnya titik) --- hal 90
raning --(ranting) ---hal 123
puih --(putih) ---hal 140
mengira-ira --- (mengira-ngira) ---hal 158
ke lima ---(kelima) ---hal 188
Kaliluna "Entahlah," kata Kaliluna ... (?) ---hal. 196
... kucing itu itu berjingat -- (kucing itu berjingkat) --- hal 246
Dengan uang penjualan yang besar Pablo bisa merenovasi toko permen mamanya ---(sepertinya yang merenovasi toko itu Ibai, bukan Pablo, kan?) ---hal 267

Karena settingnya Spanyol, maka pembaca akan dikenalkan dengan beberapa cuplikan puisi Pablo Neruda. Kalimat yang paling saya suka adalah yang diucapkan Ibai pada Kaliluna
Aku ingin melakukan denganmu apa yang musim semi lakukan dengan pohon ceri. (petikan puisi Pablo Neruda)
Sayang sekali font yang dipilih untuk puisi dalam bahasa aslinya sulit dibaca.

Terakhir, terima kasih telah mengenalkan saya pada Kaliluna, Salamanca, sungai Thormes, dan panah.
Membaca novel ini mengingatkan saya pada grup vokal kesayangan  saya Il Divo. Dan salah satu lagu yang cocok untuk mengiringinya adalah Una Noche


Ada Book Trailer yang bisa dinikmati sebelum membaca novelnya:

http://www.youtube.com/watch?v=qRrphevpWH8

gambar dari goodreads
Judul  : Kaliluna, Luka di Salamanca
Penulis : Ruwi Meita
Penyunting : Dyah Utami
Proofreader : Sasa
Desainer sampul : Fahmi Fauzi
Penerbit : Moka Media
Cetakan I : 2014
ISBN : 979-795-854-X
Juml. Halaman : 270 hal.
Kaliluna, Luka di Salamanca Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ponco Topanerz

Post a Comment